LKisah Langsa
Budaya & Adat Aceh: Tari Seudati, Rapa'i Geleng, dan Tradisi Peusijuek Langsa

Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek: Wajah Adat Aceh di Kota Langsa

Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek hidup di Kota Langsa, Aceh. Simak wajah adat Aceh yang masih dijaga warga kota berjarak 400 km dari Banda Aceh ini.

Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek: Wajah Adat Aceh di Kota Langsa

Hal Penting

  • Langsa adalah kota di provinsi Aceh, Indonesia, berjarak kurang lebih 400 km dari Banda Aceh.
  • Pada 2021, penduduk Kota Langsa sebanyak 185.622 jiwa dengan kepadatan 707 jiwa/km2.
  • Seudati adalah tari tradisional Aceh yang dibawakan penari pria dengan gerak cepat dan syair.
  • Rapa'i Geleng adalah kesenian rebana Aceh dengan gerakan kepala berputar mengikuti irama.
  • Peusijuek adalah tradisi tepung tawar Aceh untuk memohon berkah pada momen penting.

Adat yang Masih Hidup di Kota Langsa

Di sudut mana pun Kota Langsa, adat Aceh bukan benda museum. Ia hadir di halaman rumah, balai desa, dan aula sekolah. Langsa berada kurang lebih 400 km dari Banda Aceh, di jalur timur provinsi Aceh. Pada 2021, penduduknya 185.622 jiwa dengan kepadatan 707 jiwa/km2. Kota kecil ini menyimpan tiga wajah adat yang paling sering muncul dalam acara warga: Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek.

Seudati adalah tari tradisional Aceh. Penarinya pria, jumlahnya genap, biasanya delapan orang. Satu orang jadi syeh, satu jadi aneuk syeh, sisanya penari. Gerakannya cepat, kaki menghentak, tangan menepuk dada dan paha. Syairnya dilantunkan bergantian, berisi nasihat, kisah, atau pujian. Di Langsa, Seudati tampil saat pernikahan, sunatan, dan penyambutan tamu. Latihannya biasanya di meunasah atau balai desa pada malam hari.

Rapa'i Geleng juga kesenian Aceh. Pemainnya duduk berbaris, memegang rebana, menabuh dengan pola rapat. Yang membuatnya khas adalah gerakan kepala berputar ke kiri dan ke kanan mengikuti tempo. Semakin cepat tabuhan, semakin cepat kepala berputar. Di Langsa, Rapa'i Geleng sering dibawakan setelah Seudati pada acara yang sama. Ia jadi penutup yang menghibur sebelum doa.

Peusijuek adalah tradisi tepung tawar. Daun pacar, beras, kunyit, dan air dicampur, lalu dipercikkan ke orang yang didoakan. Ada juga yang menempelkan beras di dahi. Peusijuek dilakukan pada pernikahan, kelahiran, pindah rumah, dan sebelum menempuh perjalanan jauh. Di Langsa, tradisi ini masih dijalankan keluarga secara turun-temurun.

Seudati dan Rapa'i Geleng: Bunyi dan Gerak yang Sama Tapi Beda

Orang luar sering menyamakan Seudati dan Rapa'i Geleng karena keduanya Aceh dan keduanya bersuara. Padahal keduanya berbeda. Seudati tidak memakai alat musik. Bunyinya dari tepukan tangan, hentakan kaki, dan petikan jari. Penarinya berdiri, bergerak, dan menari. Rapa'i Geleng memakai rebana sebagai alat musik utama. Pemainnya duduk, menabuh, dan menggerakkan kepala. Jadi Seudati lebih ke tari dan syair, Rapa'i Geleng lebih ke musik dan gerak ritmis.

Di Langsa, keduanya sering tampil berurutan. Seudati membuka, Rapa'i Geleng menutup. Warga menonton dari kursi plastik yang ditata di halaman. Anak-anak ikut menirukan gerakan kepala Rapa'i Geleng dari pinggir panggung. Momen seperti ini yang membuat adat tetap hidup, bukan sekadar diarsipkan.

Latihan Seudati dan Rapa'i Geleng biasanya dilakukan pemuda desa. Mereka kumpul setelah salat Isya, berlatih dua sampai tiga jam. Tidak ada bayaran tetap. Kadang ada uang lelah dari tuan rumah acara, jumlahnya relatif terjangkau dan tidak dipatok. Yang penting acara berjalan dan tamu terhibur.

Di kota seperti Langsa, tantangannya nyata. Anak muda lebih sering memegang ponsel daripada rebana. Namun di desa-desa sekitar, grup Seudati dan Rapa'i Geleng masih aktif. Mereka diundang lintas kecamatan, bahkan ke kabupaten tetangga. Adat jalan lewat undangan, bukan lewat spanduk.

Peusijuek: Tepung Tawar yang Menyatukan Keluarga

Peusijuek adalah tradisi yang paling sering dilakukan orang Langsa. Hampir setiap keluarga pernah melakukannya. Bahannya sederhana: beras, kunyit, daun pacar, dan air dalam mangkuk. Ada juga yang menambah bunga dan kayu manis. Orang yang menepung tawar biasanya tokoh agama atau orang tua yang dihormati.

Prosesnya singkat. Orang yang didoakan duduk, lalu dipercikkan air tepung tawar ke kepala dan tangan. Setelah itu, beras ditempelkan di dahi. Doa dipanjatkan, biasanya dalam bahasa Aceh dan Arab. Selesai, orang yang dituakan memberi nasihat singkat. Acara lalu dilanjutkan makan bersama.

Di Langsa, Peusijuek dilakukan pada banyak momen. Pernikahan, kelahiran anak, pindah rumah, naik kendaraan baru, dan keberangkatan haji. Ada juga Peusijuek untuk siswa yang akan ujian, meski tidak semua keluarga melakukannya. Yang jelas, tradisi ini soal restu dan doa, bukan sekadar seremonial.

Biaya Peusijuek relatif murah. Bahan bisa dibeli di pasar Langsa, seperti Pasar Langsa di pusat kota. Satu set bahan biasanya cukup untuk beberapa acara. Karena itu, tradisi ini tetap terjangkau untuk keluarga mana pun. Ia tidak butuh panggung besar, hanya niat dan doa.

Di kota yang berjarak 400 km dari Banda Aceh ini, Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek adalah wajah adat yang masih dijaga. Penduduk Langsa yang 185.622 jiwa pada 2021 tidak semuanya menari atau menabuh. Tapi hampir semuanya pernah ditepung tawar. Adat Aceh di Langsa hidup dari hal kecil seperti itu.

Tanya Jawab Singkat

Apa itu Tari Seudati?

Tari Seudati adalah tari tradisional Aceh yang dibawakan penari pria berjumlah genap, biasanya delapan orang. Gerakannya cepat dengan tepukan tangan dan hentakan kaki, diiringi syair yang dilantunkan bergantian.

Apa perbedaan Seudati dan Rapa'i Geleng?

Seudati tidak memakai alat musik dan penarinya berdiri menari. Rapa'i Geleng memakai rebana, pemainnya duduk menabuh, dan menggerakkan kepala mengikuti tempo.

Apa itu tradisi Peusijuek?

Peusijuek adalah tradisi tepung tawar Aceh. Air campuran beras, kunyit, dan daun pacar dipercikkan ke orang yang didoakan, lalu beras ditempelkan di dahi. Dilakukan pada pernikahan, kelahiran, pindah rumah, dan keberangkatan jauh.

Apakah adat Aceh masih hidup di Kota Langsa?

Ya. Seudati, Rapa'i Geleng, dan Peusijuek masih dilakukan warga Langsa pada acara pernikahan, sunatan, kelahiran, dan penyambutan tamu. Grup kesenian desa masih aktif diundang lintas kecamatan.